Share |

ORANG-ORANG DALAM LINGKARAN



LINGKARAN GLOBALISASI


Di dalam “lingkaran itu”, ada orang besar, ada yang dibesar-besarkan, tetapi ada pula yang membesar-besarkan diri. Ada juga orang kecil, dan ada yang dikecilkan ataupun diperkecil. Memang ada yang dikucilkan, tetapi yang paling celaka adalah orang yang berjiwa kecil dan kerdil. Ada pula yang merasa bijak kemudian mengecilkan diri dan mengucilkan diri agar tidak terimbas virus cemoohan fitnah dari orang-orang yang sedang jadi “pahlawan kemanusiaan”. Padahal sesungguhnya orang yang mengucilkan diri itu, hanya sekedar sedang merenungkan makna harfiah dari kata al-fitnah, yang konon lebih kejam dari sebuah pembunuhan. Kalau pun dalam “lingkaran itu”, banyak orang kaum santri, namun boleh jadi tukang santet pun tidak sedikit.

Di dalam “lingkaran itu”, memang ada orang alim, tetapi tidak sedikit pula orang lalim. Ada juru bicara tetapi ada pula yang sekedar pandai “jual bicara”. Ada praktisi politik, ada politisi parkiran, juga ada yang sekedar kerasukan politik. Ada yang jadi kebangaan, ada yang dibangga-banggakan, tetapi ada pula gila bangga. Ada yang tampil meng-acukan wajah, ada yang tampil tanpa wajah, tetapi tidak sedikit yang kemudian “kehilangan wajah”. Lantas di dalam “lingkaran itu” ada orang yang bersuara lantang menantang penuh idelisme, namun ada pula yang “luntang lantung” tanpa arah, tanpa makna dan tanpa idealisme.

Itulah potret sebuah “lingkaran” dari sebuah panorama kehidupan dengan sejumlah orang yang “multi wajah” dan diversifikasi karakter dan kelakuan. Dan konon, itulah gebyar sebuah era berlogo reformasi yang sarat dengan semboyan globalisasi dan transpasari. Pada episode yang lain, terkadang juga “reformasi”, seakan dimaknai pula sebagai kebebasan yang kebablasan untuk menghujat, memfitnah dan mencaci orang lain tanpa etika moral dan tanpa nurani. Mudah-mudahan saja reformasi model ini bukan akibat ”repot nasi”.

Seandainya kehidupan dunia ini hanya sebulan, mungkin akan mudah menghitung hari untuk “berdagang-dagang” amal buat bekal di alam kubur yang dinging dan gelap. Namun seandainya hidup ini sepanjang zaman, mungkin tak akan pernah cukup membagi waktu buat periode pilkada bagi sang pemimpin. Dan seandainya hidup ini tidak dipenuhi dengan kegiatan “berandai-andai”, mungkin era reformasi tak perlu repot nasi.

Seandainya dalam “lingkaran itu”, banyak orang berotak cendekia, tentu tak perlu menyibukkan diri untuk meng-acukan wajah ke atas (-an), sehingga ia harus kehilangan wajahnya sendiri. Karena sang cendekia sendiri akan paham tentang the right man in the right place, yakni tentang kemampuan memposisikan diri atau diposisikan pihak lain dalam sebuah proporsi yang wajar. Juga seandainya saja orang-orang dalam “lingkaran itu” banyak yang berpikiran sufi, tentu tak perlu memaksa diri untuk bertanya “pada rumput yang bergoyang” akibat Tuhan bosan melihat tingkahnya yang bebal berlumur dosa-dosa yang tak disadarinya. Ia juga akan tahu bagaimana bijaknya sang khalik mengatur makhluknya dalam makro kosmos ini. Dan tak perlu menyembah-nyembah makhluk ciptaan sanga khaliq, demi sesuap nasi.

Sayang sekali, orang-orang di lingkaran itu sedang larut tanpa sadar, kalau dalam tataran kehidupan mikro, sang “khalifah” sesungguhya juga paham dan tau, siapa diantara “santrinya” yang piawai dalam menanam dan siapa pula yang akan gesit menuai hasil dari bibit dan benih kiprah karyanya. Mungkin pula bagi sang “umara” yang brillian dalam psikologi wajah menyadari, bahwa secara genetika, siapa sesungguhnya diantara para santri itu yang benar-benar berwajah gagah dan perkasa, dan mana yang sekedar “menjaul wajah”.

Makna harfiah sesungguhnya yang ingin penulis ajukan dalam guratan sederhana ini, adalah bagaimana arti pentingnya orang-orang yang berada dalam “lingkaran” kehidupan itu, sesekali bertafakkur kepada khaliqnya dalam mencari dan menemukan fitrah jati dirinya untuk “menjadi dirinya sendiri”, tanpa harus mengobral “zakat fitnahnya” kepada orang lain atau pun dengan mengumbar nafsu “menjual diri”, hanya sekedar agar bisa diperhitungkan dan diposisikan orang-orang pada lingkaran yang lain.

Bukankah sang Sufi telah memberikan petuahnya yang bijak, bahwa seekor kerbau hanya akan melahirkan anak kerbau pula, dan tak akan pernah melahirkan anak kambing atau ayam. Maknanya, bahwa manusia bijak hanya akan selalu melahirkan kata bijak, bukan kata-kata cercaan, apalagi fitnah. Kalau pun sang bijak tiba-tiba melahirkan kata-kata sumpah serapah ber-aroma sampah, maka dapat diyakinkan bahwa perutnya sedang mengandungkan “virus ganas” akibat pernah menghirup limbah atau lumpur lapindo.

Semoga ini hanya sebuah ilusi. Namun seandainya gejala serupa ini benar-benar ada atau marak di dalam “lingkaran” kehidupan kita, akan betapa sulitnya mencari “manusia” (sejati) di tengah hiruk pikuknya kehidupan manusia. Dan solusi paling bijak untuk itu adalah bersegeralah untuk hijrah dari lingkaran itu untuk naik ke perahu Nabi Nuh. Karena perahu Nabi Nuh hanya akan memuat kumpulan orang-orang bijak yang selalu memelihara mulut dengan sikat gigi dan tidak mempersekutukan khaliqnya. Dalam bahasa “kampung” disebut, , selalu bertutur “satunya kata dengan perbuatannya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
NIKMATIN KEBERSAMAAN & BERBAGI ILMU & INFO TERKINI (SARANA INFORMASI TEMPAT DUNIA INFORMASI & SARANA INOVATIF)